- Pencarian Korban KM Virgo Resmi Diperpanjang hingga 7 Hari ke Depan
- Fenomena Batuk Berlama-lama Marak di Masyarakat: Apakah Gejala Covid-19 atau Faktor Lain ?
- Update Perolehan Medali SEA Games 2026: Perjuangan Indonesia Kian Berat di Papan Atas
- Jeda Turnamen Internasional: Panggung Zinedine Zidane Optimalkan Strategi Les Bleus
- Menatap Derby Nusantara: Persiapan Matang Timnas Indonesia Hadapi Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026
- Ajang Balas Dendam Tuntas! Timnas Indonesia Bungkam Singapura di Laga Pembuka FIFA ASEAN Cup 2026
- Rahmat Erwin Abdullah Raih Emas Asian Games 2026 dan Pecahkan Rekor Dunia!
- Kabar Duka Nasional: Guruh Soekarnoputra Meninggal Dunia, Dunia Seni Kehilangan Sang Maestro
- Indonesia Raya Berkumandang! Skuad Badminton Putra Garuda Sabet Medali Emas Pertama di ASEAN Games 2
- Pendidikan TK hingga PTN Gratis Presiden Prabowo Perintahkan Redesain Anggaran dan Bentuk Timsus
Pidato Prabowo Soal Pengupas Bawang Bikin Heboh, Rp700 Ribu atau Rp700 Per Kilogram?

ZONA TODAY JAKARTA — Pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai seorang buruh pengupas bawang mendadak menjadi perbincangan luas. Bukan karena pekerjaan tersebut, melainkan karena nominal upah yang disebut dalam pidato kenegaraan di hadapan anggota parlemen.
Dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI serta DPD RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat, 14 Agustus 2026, Prabowo memperkenalkan seorang perempuan bernama Susanah dari Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Susanah disebut bekerja sebagai buruh harian yang mengupas bawang. Prabowo menyampaikan kisah Susanah ketika menjelaskan manfaat sejumlah program bantuan pemerintah bagi masyarakat. Dalam penyampaiannya, Presiden menyebut nominal upah yang kemudian menjadi sorotan publik. “Hari ini, hadir bersama kita Ibu Susanah dari Kabupaten Bogor. Ia bekerja sebagai buruh harian, mengupas bawang dengan upah Rp700 ribu per kilogram.”
Pernyataan tersebut segera menarik perhatian karena jika angka Rp700 ribu per kilogram benar-benar merupakan tarif jasa pengupasan bawang, nilainya terlihat sangat besar jika dibandingkan dengan harga komoditas bawang dan pola upah pekerja harian pada umumnya.
Perbincangan di media sosial kemudian berkembang ke berbagai arah. Sebagian warganet mempertanyakan kewajaran angka tersebut, sementara lainnya menjadikannya bahan candaan dengan membandingkan penghasilan pengupas bawang dengan profesi lain.
Namun, persoalannya tidak berhenti pada perdebatan soal besar kecilnya upah. Perhatian publik kemudian tertuju pada adanya perbedaan antara angka yang terdengar dalam pidato dengan angka yang disebut dalam naskah tertulis.
Sejumlah laporan menyebut naskah pidato menuliskan nominal Rp700 per kilogram, bukan Rp700 ribu. Perbedaan tersebut memunculkan dugaan bahwa angka yang disampaikan secara lisan mengalami kekeliruan ketika dibacakan di podium.
Dalam konteks pidato, kisah Susanah sebenarnya digunakan untuk menggambarkan dampak program perlindungan sosial pemerintah. Prabowo menyebut Susanah sebagai penerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH) dan program sembako.
Menurut penjelasan Presiden, bantuan tersebut turut membantu keluarga Susanah, terutama dalam menjaga keberlangsungan pendidikan anak-anaknya. Dengan demikian, penyebutan Susanah bukan sekadar mengenai pekerjaannya sebagai pengupas bawang, tetapi juga menjadi contoh warga yang menerima manfaat dari program pemerintah.
Ramainya perdebatan mengenai nominal tersebut membuat pemerintah memberikan respons. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan pemerintah akan memeriksa kembali detail informasi yang disampaikan dalam pidato Presiden.
“Nanti kita cek ya. Kalau detailnya kita cek.”
Pernyataan tersebut disampaikan Prasetyo ketika ditanya mengenai polemik nominal upah pengupas bawang yang disebut Presiden. Sikap tersebut menunjukkan bahwa pemerintah belum memberikan penjelasan final mengenai perbedaan angka yang menjadi perhatian publik.
Kasus ini menjadi menarik karena memperlihatkan betapa cepat sebuah angka dalam pidato pejabat publik dapat menjadi perhatian masyarakat. Apalagi, pidato Presiden disampaikan dalam forum kenegaraan yang ditonton dan dikutip secara luas.
Perbedaan antara Rp700 dan Rp700 ribu bukan sekadar persoalan penulisan. Selisihnya mencapai seribu kali lipat. Karena itu, klarifikasi mengenai angka sebenarnya menjadi penting agar masyarakat tidak memperoleh gambaran ekonomi yang keliru.
Di sisi lain, kisah Susanah juga memperlihatkan bahwa pekerjaan informal seperti buruh pengupas bawang tetap menjadi bagian dari kehidupan ekonomi masyarakat. Persoalan yang muncul justru terletak pada bagaimana data mengenai pekerjaan, pendapatan, dan penerima manfaat disampaikan kepada publik.
Hingga polemik ini mencuat, perhatian publik tertuju pada klarifikasi pemerintah mengenai nominal upah yang sebenarnya diterima Susanah. Apakah benar Rp700 ribu per kilogram, atau terdapat kekeliruan penyebutan sehingga angka yang dimaksud adalah Rp700 per kilogram?
Jawaban atas pertanyaan tersebut penting bukan hanya untuk menyelesaikan perdebatan di media sosial, tetapi juga untuk memastikan informasi yang keluar dari forum resmi kenegaraan memiliki dasar data yang akurat.
Kasus pidato Prabowo soal pengupas bawang akhirnya menjadi pengingat bahwa satu angka yang keliru atau belum terverifikasi dapat menggeser perhatian publik dari pesan utama sebuah pidato. Di tengah derasnya arus informasi digital, ketepatan data menjadi sama pentingnya dengan pesan yang ingin disampaikan.
Kenapa Pernyataan Prabowo Soal Pengupas Bawang Jadi Viral?
Prabowo Sebut Bantuan Pemerintah Membantu Keluarga Susanah
Mensesneg: Data Upah Pengupas Bawang Akan Dicek
Bukan Sekadar Soal Bawang, Publik Menyoroti Akurasi Data Pidato Presiden
Publik Kini Menunggu Klarifikasi Pemerintah











