Kronologi Peristiwa Berdarah G30S PKI, Sejarah Kelam Bangsa Indonesia!

By Redaksi ZN 01 Okt 2026, 05:46:43 WIB Sejarah Indonesia
Kronologi Peristiwa Berdarah G30S PKI, Sejarah Kelam Bangsa Indonesia!

Kategori: Sejarah Nasional | Oleh: Redaksi Sejarah | Diterbitkan: Kamis, 01 Oktober 2026

Zona Today G30SPKI - Peristiwa Gerakan 30 September 1965 atau G30S/PKI tetap menjadi salah satu catatan sejarah kelam paling berdarah dan memilukan bagi bangsa Indonesia. Tragedi nasional yang terjadi dalam pergantian malam menuju dini hari 1 Oktober 1965 ini melibatkan penculikan keji dan gugurnya sejumlah perwira tinggi TNI Angkatan Darat di ibu kota. Langkah kudeta sepihak tersebut menyisakan luka mendalam sekaligus mengubah arah konstelasi politik tanah air secara drastis dalam sejarah peradaban modern bangsa. Latar belakang ketegangan berdarah ini dipicu oleh memanasnya situasi geopolitik domestik di bawah sistem Demokrasi Terpimpin. Faksi politik kala itu terpolarisasi tajam antara kubu Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dipimpin oleh D.N. Aidit melawan petinggi militer TNI Angkatan Darat, yang diperparah oleh hembusan isu adanya konspirasi "Dewan Jenderal".

Kronologi Penculikan Dini Hari: Target Operasi Militer

Operasi militer lapangan yang dipimpin langsung oleh Letkol Untung Syamsuri mulai bergerak serentak sekitar pukul 03.00 WIB pada 1 Oktober 1965. Menggunakan unsur bersenjata dari Resimen Tjakrabirawa serta bantuan pasukan sektoral, detasemen bergerak menyisir kawasan Jakarta untuk menjemput paksa target operasi di kediaman mereka masing-masing. Dalam aksi keji ini, enam jenderal dan satu perwira pertama gugur secara tragis:

  • Menteri/Panglima Angkatan Darat: Letnan Jenderal Ahmad Yani ditembak langsung di rumahnya setelah menolak ikut secara paksa.
  • Perwira Tinggi AD Lainnya: Mayjen R. Soeprapto, Mayjen M.T. Haryono, Mayjen S. Parman, Brigjen D.I. Panjaitan, dan Brigjen Sutoyo Siswomiharjo turut diculik dalam kondisi hidup maupun telah wafat di tempat.
  • Misi di Rumah Jenderal A.H. Nasution: Menteri Koordinator Pertahanan dan Keamanan Jenderal A.H. Nasution berhasil meloloskan diri melompati dinding pembatas. Namun, putrinya yang berusia lima tahun, Ade Irma Suryani Nasution, tertembak dan sang ajudan Lettu Pierre Tendean ditangkap setelah mengaku sebagai Nasution demi melindungi komandannya.
  • Korban Lain di Ibu Kota: Brigadir Polisi Satsuit Tubun juga gugur saat menjalankan tugas pengawalan di dekat rumah Wakil Perdana Menteri II Dr. J. Leimena.
Titik Tragedi Lubang Buaya: Seluruh perwira yang diculik dibawa menuju basis utama di kawasan Lubang Buaya, dekat Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Jenazah para korban kemudian dimasukkan secara tragis ke dalam sebuah sumur tua berdiameter 75 sentimeter guna menyembunyikan jejak operasi.

Deklarasi Dewan Revolusi Melalui Siaran RRI

Memasuki pagi hari pukul 07.00 WIB, kelompok pergerakan G30S mulai menguasai objek vital di sekitar Lapangan Merdeka, termasuk Kantor Pusat Telekomunikasi dan gedung Radio Republik Indonesia (RRI). Melalui corong mikrofon RRI, Letkol Untung menyiarkan pengumuman pembentukan "Dewan Revolusi Indonesia" serta menyatakan bahwa kabinet pemerintahan berada dalam status demisioner. Berita ini sempat menimbulkan kepanikan massal dan kebingungan di kalangan masyarakat luas.

Operasi Penumpasan Cepat oleh Angkatan Darat

Mendengar kekosongan pimpinan di tubuh Angkatan Darat, Panglima Kostrad Mayor Jenderal Soeharto langsung mengambil alih komando taktis militer untuk menindaklanjuti situasi. Menginjak sore hari 1 Oktober 1965, Soeharto mengerahkan satuan RPKAD di bawah pimpinan Kolonel Sarwo Edhi Wibowo untuk merebut kembali objek-objek vital nasional.

Gedung RRI dan Kantor Telekomunikasi berhasil dikuasai kembali dalam hitungan jam tanpa pertumpahan darah. Pada malam harinya pukul 20.00 WIB, melalui siaran resmi RRI yang telah dinormalisasi, Mayjen Soeharto mengumumkan situasi kudeta berdarah tersebut ke publik dan menegaskan bahwa Presiden Soekarno dalam kondisi selamat. Keesokan harinya pada 2 Oktober 1965, pasukan TNI berhasil mengamankan penuh kawasan Halim Perdanakusuma yang menjadi episentrum pergerakan pemberontak.


Hashtag :
#SejarahIndonesia #G30SPKI #KronologiG30S #SejarahKelam #Lubang Buaya #PahlawanRevolusi #DewanJenderal #Cakrabirawa #ZonaToday




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment