- Mutasi Besar Polri 2026! Kapolri Rotasi 1.121 Personel, Ratusan Kapolres hingga Dua Kapolda Berganti
- Dolar AS Kembali Tembus Rp18.000 di Bank! Rupiah Melemah
- Pengurus APBISDI 2026–2029 Resmi Terpilih!!! Munas II di UNJ Perkuat Bisnis Digital Indonesia
- Klasemen Terbaru Grup D, E dan F Piala Dunia 2026
- Klasemen Grup A, B dan C Piala Dunia 2026 Memanas! Ada yang Sudah Lolos, Qatar Dipastikan Terpuruk
- SMP Yakha Banyuresmi Sukses Bangun Budaya Literasi, Siswa Kini Lebih Kritis Berkat Gerakan 15 Menit
- Jangan Sampai Terlewat! Puasa Asyura 10 Muharram Punya Keutamaan Besar
- Reformati Indonesia Menggema, Ribuan Mahasiswa Turun ke Jalan Bawa Deretan Tuntutan untuk Pemerintah
- HUT ke-499 Jakarta Jadi Pesta untuk Semua Menuju 5 Abad
- Kenapa Listrik PLN Sering Padam? Ini Penyebab Sebenarnya yang Jarang Diketahui Masyarakat
SMP Yakha Banyuresmi Sukses Bangun Budaya Literasi, Siswa Kini Lebih Kritis Berkat Gerakan 15 Menit

ZONA TODAY GARUT – Program Gerakan 15 Menit Membaca di SMP Yakha Banyuresmi, Kabupaten Garut, menunjukkan hasil positif setelah mendapatkan pendampingan dari akademisi Institut Pendidikan Indonesia (IPI) Garut dan Universitas Garut. Melalui penerapan strategi pedagogik yang lebih kreatif dan partisipatif, kegiatan membaca yang sebelumnya cenderung bersifat formalitas kini berkembang menjadi aktivitas literasi yang mendorong siswa berpikir kritis dan reflektif.
Program yang berlangsung pada 23–28 April 2026 tersebut merupakan bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan meningkatkan kapasitas guru dalam mengelola kelas literasi. Pendampingan dilakukan melalui workshop, implementasi strategi pembelajaran, observasi kelas, hingga evaluasi bersama guru.

- Reformati Indonesia Menggema, Ribuan Mahasiswa Turun ke Jalan Bawa Deretan Tuntutan untuk Pemerintah0
- HUT ke-499 Jakarta Jadi Pesta untuk Semua Menuju 5 Abad0
- Kenapa Listrik PLN Sering Padam? Ini Penyebab Sebenarnya yang Jarang Diketahui Masyarakat0
- Bocoran Pertemuan Prabowo, Erick Thohir dan John Herdman! Misi Besar Timnas Indonesia0
- Ultah ke-99 Persebaya, Green Force Kini Hanya Selangkah Lagi Menuju Sejarah 1 Abad0
Ketua tim pengabdian dari IPI Garut, Winka Naida, M.Pd., mengatakan bahwa tantangan utama dalam gerakan literasi sekolah bukan hanya menyediakan bahan bacaan, melainkan menciptakan pengalaman membaca yang bermakna bagi siswa.
“Selama ini banyak program literasi berjalan secara rutin, tetapi belum sepenuhnya mampu menumbuhkan keterlibatan siswa secara aktif. Karena itu, kami berupaya memperkuat kompetensi guru agar mampu menghadirkan kegiatan membaca yang lebih hidup, interaktif, dan relevan dengan dunia siswa,” ujar Winka.
Menurutnya, guru memiliki posisi strategis dalam membangun budaya literasi karena berperan sebagai fasilitator yang mampu menjembatani siswa dengan berbagai pengalaman membaca yang bermakna.
Sementara itu, akademisi Universitas Garut sekaligus anggota tim pengabdian, Dioka Muhammad Akbar, M.Pd., menilai bahwa peningkatan literasi tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan membutuhkan perubahan paradigma dalam proses pembelajaran.
“Literasi bukan sekadar kemampuan membaca teks, tetapi kemampuan memahami, menganalisis, dan merefleksikan informasi secara kritis. Melalui program ini, kami ingin mengubah fenomena ‘pembaca mekanik’ menjadi pembaca yang mampu berpikir dan mengambil makna dari setiap bacaan yang mereka konsumsi,” kata Dioka.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan program terlihat dari meningkatnya keterlibatan siswa dalam diskusi serta kemampuan mereka menghubungkan isi bacaan dengan pengalaman kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan hasil observasi, guru mulai menerapkan berbagai teknik seperti scaffolding, reading aloud, dan diskusi pemantik untuk meningkatkan minat baca siswa. Perubahan tersebut berdampak pada meningkatnya daya tahan membaca (reading endurance) serta kemampuan siswa dalam memahami dan merefleksikan isi bacaan.
Kepala SMP Yakha Banyuresmi, Popon Nurazizah, M.Pd., menyambut baik program pendampingan tersebut. Menurutnya, kolaborasi antara sekolah dan perguruan tinggi memberikan dampak nyata terhadap penguatan budaya literasi di lingkungan sekolah.
“Kami merasakan perubahan yang cukup signifikan. Siswa menjadi lebih antusias mengikuti kegiatan membaca, sementara guru memperoleh banyak strategi baru dalam mengelola kelas literasi. Program ini memberikan motivasi bagi sekolah untuk terus mengembangkan budaya membaca secara berkelanjutan,” ungkap Popon.
Ia berharap hasil program tidak berhenti pada masa pendampingan saja, tetapi dapat menjadi budaya sekolah yang terus berkembang dan memberikan dampak jangka panjang terhadap kualitas akademik siswa.

Sebagai bentuk keberlanjutan program, tim pengabdian bersama pihak sekolah juga menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) pengelolaan kelas literasi. SOP tersebut diharapkan menjadi pedoman dalam pelaksanaan Gerakan 15 Menit Membaca sehingga kegiatan literasi tidak lagi dipandang sebagai rutinitas administratif, melainkan menjadi bagian dari budaya belajar di sekolah.
Melalui sinergi antara sekolah dan perguruan tinggi, SMP Yakha optimistis mampu menciptakan ekosistem literasi yang lebih kuat dan berkontribusi pada peningkatan kualitas pendidikan di Kabupaten Garut.
Kategori
Pendidikan | Literasi | Garut | Sekolah | Pengabdian Masyarakat | Pendidikan Indonesia
Hashtag :
#Gerakan15MenitMembaca #LiterasiSekolah #SMPYakhaBanyuresmi #Garut #IPIGarut #UniversitasGarut #BudayaLiterasi #PendidikanIndonesia #MinatBaca #LiterasiSiswa #GuruInspiratif #PengabdianMasyarakat #ZonaToday











