ZonaToday — Kabar tentang roket SpaceX yang menghantam Bulan memang benar terjadi. Namun, video dramatis yang memperlihatkan roket melaju lalu meledak saat menghantam permukaan Bulan yang viral di media sosial ternyata bukan rekaman asli. Para astronom memastikan video tersebut merupakan rekayasa digital yang kemungkinan dibuat menggunakan kecerdasan buatan atau AI.
Roket SpaceX Benar-Benar Menghantam Bulan
Peristiwa sebenarnya terjadi pada 5 Agustus 2026, ketika sebuah bagian atas roket Falcon 9 yang sudah tidak digunakan lagi akhirnya menabrak permukaan Bulan. Benda tersebut merupakan upper stage dari roket yang sebelumnya digunakan dalam misi peluncuran pada Januari 2025.
Objek yang dikenal sebagai 2025-010D bergerak menuju Bulan setelah tidak lagi memiliki cukup kemampuan untuk melakukan manuver kembali. Berdasarkan kajian orbit, benda tersebut diperkirakan menghantam wilayah Bulan di sekitar kawasan Einstein Crater, pada sisi yang sulit diamati langsung dari Bumi.
- National Chocolate Chip Cookie Day 4 Agustus: Sejarah Kue Legendaris0
- 2 Agustus Ada Hari Paranormal, Hari Saudara Perempuan Nasional, hingga Hari Republik Makedonia Utara0
- Hari Kanker Paru-Paru Sedunia 1 Agustus: Waspadai Gejalanya, Deteksi Dini Bisa Selamatkan Nyawa0
- National Girlfriend Day 1 Agustus: Bukan Sekadar Hari untuk Pasangan, Ini Sejarah dan Maknanya0
- UPN Veteran Jatim Hadirkan AI untuk Deteksi Penyakit Daun Kopi di Sumberdem0
Kajian ilmiah memperkirakan benda tersebut memiliki massa beberapa ton dan menghantam permukaan Bulan dengan kecepatan sekitar 2,4 kilometer per detik. Tumbukan tersebut diperkirakan menghasilkan kawah baru berdiameter sekitar 40 meter.
Masalahnya: Video yang Beredar Bukan Rekaman Asli
Bersamaan dengan kabar tabrakan tersebut, media sosial ramai dengan video berdurasi pendek yang tampak memperlihatkan sebuah roket mendekati Bulan, kemudian menghantam permukaan dan menghasilkan ledakan besar serta kepulan material.
Secara visual, video tersebut memang terlihat meyakinkan. Namun, pemeriksaan para astronom menunjukkan sejumlah kejanggalan. Bentuk permukaan Bulan dalam video tidak sesuai dengan lokasi tumbukan yang sebenarnya. Selain itu, ukuran roket dan skala ledakan yang ditampilkan juga tidak masuk akal jika dibandingkan dengan kondisi nyata peristiwa tersebut.
“That’s not even the moon!”
— Carl Schmidt, planetary scientist dari Boston University
Astronom Dr Matt Bothwell dari University of Cambridge bahkan menyatakan memiliki keyakinan sangat tinggi bahwa video tersebut merupakan hasil rekayasa AI. Menurutnya, teleskop dari Bumi tidak memiliki kemampuan untuk menampilkan roket sepanjang sekitar 12 meter yang sedang mendekati Bulan dari jarak ratusan ribu kilometer.
“There’s no way for any telescope to actually resolve the incoming rocket.”
— Dr Matt Bothwell, astronom dari University of Cambridge
Elon Musk Sempat Membagikan Video, Lalu Mengaku Palsu
Kasus ini menjadi semakin ramai karena video tersebut sempat dibagikan oleh Elon Musk, pendiri SpaceX. Banyak pengguna media sosial kemudian menganggap unggahan tersebut sebagai bukti bahwa video itu benar-benar memperlihatkan detik-detik roket Falcon 9 menghantam Bulan.
Namun, Musk kemudian memberikan klarifikasi bahwa video tersebut bukan rekaman nyata. Dalam unggahan berikutnya, ia menulis singkat:
“This is fake btw”
— Elon Musk
Klarifikasi tersebut menjadi salah satu petunjuk penting bahwa video viral yang beredar tidak boleh diperlakukan sebagai dokumentasi asli peristiwa tabrakan.
Kenapa Tidak Ada Video Asli Saat Roket Menghantam Bulan?
Pertanyaan yang banyak muncul adalah: jika tabrakan itu benar-benar terjadi, mengapa tidak ada kamera yang merekamnya secara langsung?
Jawabannya berkaitan dengan posisi objek dan keterbatasan pengamatan. Tumbukan berlangsung di lokasi Bulan yang tidak berada pada posisi ideal untuk dipantau secara langsung oleh satelit atau teleskop Bumi pada saat yang tepat.
Dr Eamonn Kerins, astrofisikawan dari Jodrell Bank Centre for Astrophysics, juga menyatakan video tersebut palsu. Ia menjelaskan bahwa dirinya sedang mengamati permukaan Bulan melalui siaran teleskop dengan pembesaran serupa ketika peristiwa berlangsung, tetapi tidak melihat adegan seperti yang ditampilkan dalam video viral.
Artinya, ketiadaan video spektakuler bukan berarti tabrakan tidak terjadi. Justru, bukti ilmiahnya diperoleh melalui pengamatan tidak langsung dan perbandingan kondisi permukaan Bulan sebelum serta sesudah tumbukan.
Satelit Korea Selatan Berhasil Mengabadikan Dampaknya
Jika video viral tersebut palsu, bukan berarti tidak ada bukti visual sama sekali. Satelit Bulan milik Korea Selatan, Danuri, melakukan pengamatan terhadap kawasan yang menjadi lokasi tumbukan.
Citra sebelum dan sesudah kejadian digunakan untuk melihat perubahan pada permukaan Bulan. Data tersebut menunjukkan adanya perubahan lokal pada permukaan dan material yang terdampak akibat tumbukan.
Pengamatan dari Bumi juga memberikan informasi tambahan. Observatorium di Chile yang terkait dengan European Southern Observatory dilaporkan berhasil mendeteksi jejak spektral gas dari material yang terlempar akibat tumbukan.
Bukti-bukti tersebut jauh lebih penting secara ilmiah dibandingkan video viral yang menampilkan ledakan dramatis. Dalam penelitian antariksa, data pengamatan dan analisis orbit menjadi dasar utama untuk memastikan sebuah peristiwa benar-benar terjadi.
Bukan Roket yang Sengaja Ditembakkan ke Bulan
Tabrakan ini juga perlu dibedakan dari misi yang memang sengaja menabrakkan wahana ke Bulan. Dalam kasus SpaceX tersebut, tumbukan terjadi karena bagian roket yang sudah tidak digunakan akhirnya berada pada lintasan menuju permukaan Bulan.
Peristiwa seperti ini bukan sesuatu yang sepenuhnya baru dalam sejarah eksplorasi Bulan. NASA sebelumnya memang pernah melakukan tumbukan terkontrol dengan benda antariksa untuk kepentingan penelitian. Namun, kasus Falcon 9 pada 2026 merupakan contoh lain tentang bagaimana objek buatan manusia dapat menjadi bagian dari populasi benda yang bergerak di sekitar sistem Bumi-Bulan.
Kenapa Video AI Seperti Ini Mudah Viral?
Peristiwa antariksa merupakan salah satu jenis konten yang sangat mudah menarik perhatian. Ketika sebuah kejadian nyata terjadi tetapi tidak memiliki rekaman dramatis, ruang kosong tersebut dapat dengan cepat diisi oleh video simulasi, CGI, atau AI yang kemudian dianggap sebagai dokumentasi asli.
Dalam kasus roket SpaceX, situasinya menjadi lebih rumit karena peristiwa aslinya memang benar-benar terjadi. Video palsu kemudian menempel pada peristiwa nyata sehingga terlihat meyakinkan.
Karena itu, pengguna media sosial sebaiknya membedakan dua hal: roket SpaceX benar-benar menghantam Bulan pada 5 Agustus 2026, tetapi video dramatis yang diklaim merekam langsung tumbukan tersebut bukan rekaman asli.
Kesimpulan: Tabrakannya Nyata, Videonya Palsu
Jadi, kabar yang sedang ramai sebenarnya memiliki dua sisi. Tabrakan bagian roket Falcon 9 dengan Bulan adalah peristiwa nyata dan telah menjadi objek penelitian ilmiah. Namun, video yang memperlihatkan roket meluncur jelas menuju Bulan lalu menghasilkan ledakan besar bukanlah rekaman kejadian tersebut.
Para astronom menemukan sejumlah kejanggalan pada video, sementara Elon Musk sendiri kemudian mengakui bahwa rekaman tersebut palsu. Bukti ilmiah justru berasal dari pengamatan satelit, teleskop, analisis orbit, serta perbandingan kondisi permukaan Bulan.
Di tengah semakin canggihnya teknologi AI, kasus ini menjadi pengingat bahwa video yang terlihat sangat nyata belum tentu merupakan bukti nyata. Terlebih ketika sebuah peristiwa memang benar terjadi, tetapi dokumentasi visualnya tidak tersedia.













